History

Persilangan Budaya & Warisan Bersama

Menjelajahi keunikan Batik Tiga Negeri asal Lasem — kota pesisir yang sohor dengan warna khas ‘Merah Getih Pitik’. Sebuah kisah pertemuan budaya lintas daerah, etnis, dan bangsa.

Shared Heritage

Batik Tiga Negeri sejatinya merupakan wujud dari warisan bersama (shared heritage) yang menghubungkan beberapa daerah, seperti Lasem, Pekalongan, Solo, Yogyakarta, Cirebon, hingga Madura.

Lebih dari sekadar urusan pewarnaan, Batik Tiga Negeri menyimpan kisah tentang keberagaman, pertemuan budaya, serta perjalanan rantai nilai batik global sejak ratusan tahun lalu.

Ciri Khas Merah ‘Getih Pitik’

Museum ini secara khusus mengangkat cerita unik dari Batik Tiga Negeri asal Lasem, sebuah daerah yang sohor dengan warna merah yang sangat khas: ‘Merah Getih Pitik’.

Kisahnya tak akan lepas dari konteks warisan budaya bersama yang melibatkan pertemuan budaya lintas daerah, lintas etnis, dan lintas bangsa.

Perjalanan Museum

Diinisiasi pada 2018 di paviliun Rumah Keluarga Tjoa (Jl. Karangturi IV/5 Lasem). Pada 27 Januari 2025 diresmikan oleh Ibu Catharine Fadli Zon (Istri Menteri Kebudayaan RI) di Galeri Omah Batik.

Kini menempati bangunan bersejarah Rumah Utama Keluarga Tjoa Tiong Bie dan akan dibuka kembali secara resmi penuh pada Oktober 2026.

Peta Jejaring Dagang & Distribusi Batik Lasem di Nusantara

Menelusuri rantai nilai dan jangkauan perdagangan Batik Lasem yang membentang dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga negara tetangga.

Lasem: Kota Batik di Ujung Pantai Utara

Di antara tiga kota, Lasem adalah satu-satunya kota yang masih mempertahankan seluruh rantai produksi Batik Tiga Negeri hingga hari ini.

Pusat Akulturasi & Peradaban Batik

Lasem adalah sebuah kota kecil di pesisir utara Jawa Tengah, bagian dari Kabupaten Rembang. Namun namanya terukir kuat dalam sejarah batik Indonesia sebagai salah satu pusat produksi batik tertua di Nusantara.

Keunikan batik Lasem lahir dari persilangan budaya. Di lorong-lorong Kawasan Cagar Budaya Kota Lama Lasem, perempuan Jawa dan Tionghoa peranakan duduk bersisian mengayunkan canting.

Perpaduan Motif Multikultur:

Menciptakan kain yang menggabungkan motif flora-fauna khas Tiongkok, ornamen Jawa, serta sentuhan motif India dan Eropa yang diproduksi oleh komunitas Peranakan Tionghoa (1800an-1942) hingga masyarakat multikultur masa kini.

Koran-Koran Tua Bercerita

Sebelum era internet, kisah keindahan dan dinamika batik Lasem tersebar luas melalui surat kabar berbahasa Belanda dan Melayu Tionghoa (1890–1940):

Java Bode (8 Juli 1891)

"Sarung Lasem merupakan kain yang berharga. Motif batik Lasem berupa bentuk piramida, pohon bambu, bunga jarak, bunga kapas, rusa, merak atau phoenix, dan mawar 'bunga kaum Indo Belanda'."

De Sumatra Post (30 Juli 1900)

"Motif 'Merak Ngigel' (merak menari) disandingkan dengan Sarung Nagatapa Solo dan Parang Rusak Yogyakarta sebagai motif batik terkemuka Jawa."

Het Klurs (10 Agustus 1923)

"Lasem disebut sebagai 'kain porselen' dengan warna-warna porselen dan tegel bermotif. Sarung halus dengan bunga warna-warni merah, hijau, kuning sebagai warna utama."

Batikrapport (1930) & Batik-Bond Lasem

"Menjelaskan krisis industri akibat batik cap murah dan Depresi Besar (Malaise). Pengusaha Tionghoa mendirikan Batik-Bond Lasem di gedung Tiong Hwa Hwee Kwan untuk mempertahankan batik tulis."

Lini Masa Perjalanan Batik Lasem

Abad 15

Pemukiman Tiongkok Pertama

Orang-orang Tiongkok mulai menetap di Lasem. Batik diproduksi beriringan dengan kegiatan perdagangan kapal jung di jalur pesisir utara Jawa.

1405-1433

Ekspedisi Laksamana Cheng Ho

Mewali wilayah Binangun dan Nalini. Kontak budaya Tiongkok-Jawa semakin kuat, intens, dan terstruktur.

1790-1894

Bandar Perdagangan Pesisir

Lasem berkembang menjadi kota penting: penghasil kayu jati terbaik, pusat galangan kapal, dan corong perdagangan Hindia Belanda.

1873-1904

Ekspor & Kebangkitan Batik Tiga Negeri

Batik Lasem diekspor hingga Sumatra, Singapura, Malaysia, dan Ceylon (Sri Lanka). Karakter warna merah-biru-hijau-kuning tercatat resmi dalam Koloniaal Verslag dan laporan C.T.H. Van Deventer.

1921-1930

Puncak Kejayaan & Respon Krisis

Masa kejayaan industri batik Lasem dengan 120 rumah produksi. Menghadapi ‘Krisis Kain Imitasi’ (batik cap murah) dan Depresi Ekonomi Dunia, didirikanlah Batik-Bond Lasem.

2000an-2018

Revitalisasi & Pendirian Museum

Gerakan kebangkitan kembali batik tulis Lasem oleh generasi baru. Pada tahun 2018, Museum Batik Tiga Negeri resmi didirikan oleh Rudy Hartono di kediaman keluarga Tjoa.